2. Perspektif Asyariah
Asyariah pada dasarnya mengakui pentingnya akal dan wahyu. Bagi mereka, dengan akal seseorang dapat mengetahui adanya Tuhan, sedangkan pengetahuan tentang baik dan jahat dan kewajiban-kewajiban manusia dapat diketahui melalui wahyu dan akal adalah bukti kebenaran wahyu.Menurut al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Afraniati Affan bahwa akal tidak dapat membawa kewajiban-kewajiban bagi manusia, kewajiban-kewajiban bagi manusia ditentukan oleh wahyu.
Al-Syahrastani juga mengatakan bahwa menurut Asyariah kewajiban seluruhnya berdasarkan wahyu, akal tidak mewajibkan apapun, dan tidak menentukan baik dan buruk. Mengetahui Allah SWT dapat diketahui melalui akal, tetapi kewajiban mengetahui Allah SWT, diketahui melalui wahyu.
Begitu pula kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, penetapan ketaatan dan balasan bagi orang yang bermaksiat juga dapat diketahui melalui wahyu, bukan akal”.
Meskipun demikian, bukan berarti Asyariah menyepelekan akan peranan akal pikiran. Salah seorang tokoh Asyariah yaitu Abu Qasim SulaIman bin Nasir al-Ansori dalam menulis kitabnya (Gunyah fii kalam), beliau justru menyediakan sub khusus yang membahas tentang pentingnya argumentasi akliah.
3. Perspektif Maturidiah
Sebagaimana Asyariah, Maturidiah pun mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan wahyu. Masalah yang berkaitan dengan kewajiban, bagi Maturidiah, hanyalah bisa diketahui melalui wahyu.
Maturidiah juga mengakui bahwa tidak segala sesuatu bisa dikenali baik dan buruknya oleh akal. Maturidiah membagi sesuatu yang berkaitan dengan akal ke dalam 3 bagian, yaitu:
1) Sesuatu yang hanya bisa diketahui kebaikannya oleh akal
2) Sesuatu yang hanya bisa diketahui keburukannya oleh akal
3) Sesuatu yang tidak bisa diketahui kebaikan dan keburukannya oleh akal, kecuali setelah ada petunjuk wahyu
Posting Komentar untuk " MATERI PERTEMUAN 2 ILMU KALAM KELAS XII"