Drh. Ajat Sudarjat dan gagasan membangun peternak domba-kambing yang lebih kuat dari hulu hingga hilir
JAKARTA — Ada satu persoalan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan masa depan peternak: setelah ternak berhasil dipelihara, kepada siapa ternak itu akan dijual?
Pertanyaan tersebut sebenarnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar.
Peternak bisa memiliki kandang.
Bisa memiliki indukan.
Bisa memiliki pengalaman puluhan tahun.
Bisa bekerja dari pagi sampai malam.
Tetapi tanpa pasar yang jelas, hasil kerja keras itu belum tentu memberikan nilai ekonomi yang layak.
Di titik inilah pengalaman Drh. Ajat Sudarjat bersama peternak menjadi menarik untuk diperhatikan.
Sebab jauh sebelum pencalonannya sebagai HPDKI 1, gagasan mengenai peternak yang tidak sekadar menerima bantuan, tetapi memiliki akses terhadap pasar, sudah menjadi bagian dari perjalanan pemberdayaan yang ia jalankan.
Peternak tidak cukup hanya diberi ternak
Dalam program Balai Ternak BAZNAS, pendekatan pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian modal atau hewan ternak.
Program tersebut mencakup pembibitan, penggemukan, pendampingan, pengawasan serta bantuan pemasaran hasil ternak. Bahkan ekosistemnya dikembangkan hingga pasar hewan, advokasi tata niaga, pemasaran online, pengolahan hasil, dan produk samping peternakan.
Gagasan dasarnya sederhana:
kalau peternak ingin mandiri, maka peternak harus mempunyai kemampuan menghasilkan sekaligus kemampuan menjual.
Sebab peternakan bukan hanya persoalan produksi.
Peternakan adalah bisnis.
Dan bisnis membutuhkan pasar.
Ketika pasar datang mendekati peternak
Salah satu contoh konkret pernah dikembangkan melalui usaha aqiqah online BAZNAS pada 2020.
Saat itu, Ajat Sudarjat yang menjabat sebagai Kepala Lembaga Program Pemberdayaan Peternak Mustahik BAZNAS terlibat dalam pengembangan layanan paket aqiqah yang menggunakan ternak dari peternak binaan.
Konsepnya menarik.
Masyarakat mendapatkan kemudahan layanan aqiqah, sementara ternak dibeli dari peternak mustahik dengan harga terbaik.
Dengan kata lain, kebutuhan masyarakat di hilir dapat menjadi peluang ekonomi bagi peternak di hulu.
Inilah konsep yang seharusnya semakin banyak dikembangkan dalam dunia peternakan Indonesia.
Peternak tidak hanya mencari pasar.
Pasar juga harus dibangun agar datang kepada peternak.
Dari kandang menuju rantai nilai
Selama ini, ketika membicarakan peternakan, perhatian sering berhenti pada jumlah ternak.
Berapa ekor?
Berapa beratnya?
Berapa pertumbuhannya?
Padahal ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
Berapa nilai yang diterima peternak ketika ternaknya sampai ke konsumen?
Di sinilah rantai nilai menjadi penting.
Peternak perlu memiliki akses terhadap pembibitan yang baik.
Memerlukan pakan.
Memerlukan layanan kesehatan hewan.
Memerlukan informasi harga.
Memerlukan kelembagaan.
Memerlukan pembeli.
Dan ketika memungkinkan, peternak juga perlu mendapatkan kesempatan masuk ke sektor hilir.
Ternak tidak harus selalu keluar dari kandang sebagai komoditas mentah.
Ia bisa menjadi bagian dari usaha aqiqah, Kurban, Paket Katering Aqiqah Produk olahan.
Restoran.
Hotel.
Pasar modern.
Bahkan peluang pasar internasional.
Semakin panjang nilai tambah yang dapat dikelola secara sehat oleh ekosistem peternak, semakin besar pula peluang manfaat ekonomi yang kembali kepada peternak.
Pengalaman yang terus berkembang
Menariknya, gagasan tersebut bukan hanya cerita masa lalu.
Pada Agustus 2026, dalam monitoring program Balai Ternak di Sleman, Ajat Sudarjat kembali mendorong agar kelompok peternak tidak berhenti pada aktivitas penggemukan dan pembibitan.
Ia mendorong pengembangan usaha yang lebih luas, termasuk layanan aqiqah dan pengelolaan rumah potong hewan secara bersama.
Pesannya juga jelas: kemandirian bukan berarti kelompok berhenti setelah masa pendampingan selesai.
Justru masa pendampingan harus digunakan untuk mempersiapkan kelompok agar mampu terus berkembang secara mandiri.
Ini adalah cara pandang yang penting.
Karena tujuan pemberdayaan yang sesungguhnya bukan membuat peternak terus bergantung kepada pemberi bantuan.
Tujuannya adalah membuat peternak semakin kuat sehingga suatu hari mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Pasar domestik adalah kekuatan besar
Persoalan pasar juga menjadi perhatian dalam kiprah Drh. Ajat di HPDKI.
Dalam pertemuan HPDKI dengan Kementerian Pertanian pada Maret 2026, isu perlindungan peternak dalam negeri, pengawasan ternak ilegal, stabilitas harga, serta pembukaan pasar yang lebih luas menjadi bagian dari pembahasan.
Pemerintah dan HPDKI juga membicarakan peluang ekspor domba-kambing ke Malaysia serta potensi pemanfaatan ternak lokal untuk kebutuhan dam haji di dalam negeri.
Pesannya semakin jelas:
masa depan peternakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ternak yang dapat diproduksi, tetapi juga seberapa luas pasar yang dapat dibangun untuk menyerapnya.
Peternak membutuhkan kepastian
Bagi peternak kecil, harga bukan sekadar angka.
Selisih harga beberapa ribu rupiah per kilogram dapat berarti perbedaan antara untung dan rugi.
Harga jual menentukan apakah modal pakan bisa kembali.
Menentukan apakah kandang dapat diperbaiki.
Menentukan apakah indukan baru dapat dibeli.
Dan pada akhirnya menentukan apakah seorang anak peternak akan memilih meneruskan usaha keluarganya atau mencari pekerjaan lain.
Karena itu, memperjuangkan peternak tidak cukup dengan mengatakan:
“Ayo tingkatkan produksi.”
Pertanyaan berikutnya harus selalu ada:
“Siapa yang akan membeli?”
“Dengan standar seperti apa?”
“Melalui rantai distribusi seperti apa?”
“Dan berapa nilai yang akhirnya diterima peternak?”
Dari bantuan menuju kemitraan
Di sinilah arah kepemimpinan HPDKI ke depan menjadi penting.
Organisasi peternak seharusnya tidak hanya menjadi tempat berkumpul.
HPDKI dapat menjadi jembatan.
Jembatan antara peternak dan pemerintah.
Antara peternak dan dunia usaha.
Antara peternak dan pasar.
Antara peternak dan teknologi.
Antara peternak dan lembaga pembiayaan.
Serta antara peternak di satu daerah dengan peternak di daerah lainnya.
Pengalaman Drh. Ajat dalam membangun model kemitraan memperlihatkan pentingnya mempertemukan berbagai pihak.
Dalam pengembangan program Balai Ternak, ia menekankan bahwa kemitraan dengan dunia usaha dapat membantu peternak memperoleh sarana produksi, pendampingan teknis sekaligus akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau peternak skala kecil.
Inilah pergeseran cara berpikir yang penting:
Bukan lagi sekadar “memberi kepada peternak”.
Tetapi membangun ekosistem bersama peternak.
Karena peternak ingin usaha, bukan belas kasihan
Peternak Indonesia sebenarnya tidak sedang meminta dikasihani.
Mereka ingin bekerja.
Mereka ingin memelihara ternak.
Mereka ingin mengembangkan kandang.
Mereka ingin menambah populasi.
Mereka ingin anak-anaknya bisa melanjutkan usaha.
Yang mereka butuhkan adalah ekosistem yang memungkinkan kerja keras tersebut menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Pasar yang sehat.
Harga yang wajar.
Kebijakan yang melindungi.
Akses modal.
Akses teknologi.
Kelembagaan yang kuat.
Dan pemimpin organisasi yang mau membawa suara mereka ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
HPDKI harus hadir di antara peternak dan pasar
Jika dipercaya memimpin HPDKI, pengalaman Ajat Sudarjat dapat menjadi modal untuk membawa organisasi semakin jauh dari sekadar fungsi representasi menuju fungsi penguatan ekosistem.
HPDKI dapat menjadi ruang untuk mempertemukan potensi produksi peternak dengan kebutuhan pasar.
Membangun database dan informasi pasar.
Memperluas jejaring kemitraan.
Mendorong standardisasi dan kualitas.
Membuka akses hilirisasi.
Memperkuat posisi tawar peternak.
Dan membangun kolaborasi dengan pemerintah maupun dunia usaha.
Semua itu bukan pekerjaan satu orang.
Dan bukan pula pekerjaan satu periode kepemimpinan.
Tetapi harus dimulai dari satu cara pandang:
peternak bukan objek bantuan.
Peternak adalah pelaku utama ekonomi peternakan Indonesia.
Ketika peternak kuat, desa ikut bergerak
Peternakan domba dan kambing memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ekonomi masyarakat desa.
Ketika peternak mendapatkan harga yang baik, uang berputar di desa.
Pakan dibeli.
Tenaga kerja terserap.
Pedagang bergerak.
Transportasi hidup.
Usaha pengolahan berkembang.
Dan keluarga peternak mendapatkan penghasilan.
Karena itu, membangun pasar ternak bukan hanya tentang menjual kambing atau domba.
Membangun pasar ternak berarti membangun ekonomi masyarakat.
Dan di situlah organisasi seperti HPDKI memiliki peran strategis.
Bukan sekadar bantuan. Tetapi jalan menuju kemandirian.
Perjalanan Drh. Ajat Sudarjat memberikan satu pelajaran penting:
pemberdayaan yang baik harus mempunyai tujuan akhir berupa kemandirian.
Dari kandang.
Dari kelompok.
Dari kelembagaan.
Dari produksi.
Sampai pasar.
Karena peternak tidak selamanya membutuhkan seseorang yang datang membawa bantuan.
Peternak membutuhkan seseorang yang membantu membuka jalan agar mereka dapat tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
Dan mungkin, inilah pertanyaan yang layak direnungkan dalam menentukan arah HPDKI ke depan:
Apakah kita ingin organisasi yang hanya berbicara tentang peternak?
Atau organisasi yang benar-benar membangun kekuatan peternak?
Bagi Drh. Ajat Sudarjat, jawabannya tampak sederhana:
Peternak harus diberdayakan untuk mandiri.
Peternak harus diperkuat akses pasarnya.
Dan peternak harus mempunyai posisi tawar yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, peternak tidak membutuhkan belas kasihan.
Peternak membutuhkan kesempatan.
Kesempatan untuk tumbuh.
Kesempatan untuk mendapatkan pasar.
Kesempatan untuk mendapatkan harga yang layak.
Dan kesempatan untuk membangun masa depan dari kandang yang mereka rawat dengan penuh ketekunan.
Drh. Ajat Sudarjat menuju HPDKI 1.
Bukan sekadar membantu peternak bertahan.
Tetapi bersama-sama membangun peternak agar semakin kuat, mandiri, dan memiliki pasar.
